Pengertian
Bounding Attachment
Bounding attachment berasal dari dua suku kata, yaitu bounding dan attachment. Bounding
adalah proses pembentukan sedangkan attachment
(membangun ikatan). Jadi bounding
attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan
keterikatan batin antara orangtua dan bayi. Hal ini merupakan proses dimana
sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang
bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling
membutuhkan. Konsep ikatan perlahan-lahan berkembang, mungkin mulai di
awal kehamilan dan berlanjut selama berbulan-bulan, bertahun-tahun dan mungkin
seumur hidup setelah melahirkan.
Bonding bukan sebuah proses magical atau seketika, juga bukan
dirangsang menurut permintaan atau pesanan. Perasaan kehangatan yang
dimulai kadang sudah dirasakan, bahkan sebelum konsepsi dan tentu selama
kehamilan dan akan terus berkembang selama beberapa minggu, bulan dan tahun
setelah kelahiran. Ada kemungkinan bahwa pengalaman kelahiran yang baik (dapat
memfasilitasi pertumbuhan cinta, karena ibu akan mengurangi rasa kekecewaan
terhadap diri sendiri dan kondisi emosional ibu akan lebih terfokus untuk
memberikan seluruh perhatian dirinya kepada bayinya. Kesulitan dalam
proses persalinan yang mengecewakan dapat menghambat proses terjalinnya
ikatan antara ibu dengan bayinya. Oleh karena itu penting juga memperhatikan
kondisi psikologis ibu saat proses persalinan. Adapun beberapa definisi
para ahli:
1. Klause dan
Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi,
maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir.
2. Nelson
(1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara orang
tua dan bayi segera setelah lahir, attachment: ikatan yang terjalin
antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi dan
fisik yang akrab.
3. Saxton dan
Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk mengunkapkan
perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir; attachment:
adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.
4. Bennet dan
Brown (1999), bounding: terjadinya hubungan antara orang tua dan
bayi sejak awal kehidupan, attachment: pencurahan kasih sayang di antara
individu.
5. Brozeton
(dalam Bobak, 1995): permulaan saling mengikat antara orang-orang seperti
antara orang tua dan anak pada pertemuan pertama.
6. Parmi
(2000): suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling
merespon antara orang tua dan bayi lahir.
7. Perry
(2002), bounding: proses pembentukan attachment atau membangun
ikatan; attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan
kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.
8. Subroto (cit
Lestari, 2002): sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan
batin antara orang tua dan bayi.
9. Maternal dan
Neonatal Health: adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah
proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan post partum.
10. Harfiah, bounding: ikatan; attachment:
sentuhan.
2.2 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Berhasil atau
Tidaknya Proses Bounding Attachment
2.2.1
Kesehatan
emosional orang tua
Orang tua
yang mengharapkan kehadiran si anak dalam kehidupannya tentu akan memberikan
respon emosi yang berbeda dengan orang tua yang tidak menginginkan kelahiran
bayi tersebut. Respon emosi yang positif dapat membantu tercapainya proses
bounding attachment ini.
2.2.2
Tingkat
kemampuan, komunikasi dan ketrampilan untuk merawat anak
Dalam
berkomunikasi dan keterampilan dalam merawat anak, orang tua satu dengan yang
lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan yang dimiliki masing-masing.
Semakin cakap orang tua dalam merawat bayinya maka akan semakin mudah pula
bounding attachment terwujud.
2.2.3
Dukungan
sosial seperti keluarga, teman dan pasangan
Dukungan
dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang juga penting
untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari orang-orang terdekat akan
memberikan suatu semangat / dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk
memberikan kasih sayang yang penuh kepada bayinya.
2.2.4
Kedekatan
orang tua dan anak
Dengan metode rooming in kedekatan
antara orang tua dan anak dapat terjalin secara langsung dan menjadikan
cepatnya ikatan batin terwujud diantara keduanya.
2.2.5
Kesesuaian
antara orang tua dan anak (keadaan anak, jenis kelamin)
Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain ketika keadaan anak sehat / normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang diharapkan.
Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain ketika keadaan anak sehat / normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang diharapkan.
Pada awal kehidupan, hubungan ibu dan bayi lebih dekat
dibanding dengan anggota keluarga yang lain karena setelah melewati sembilan
bulan bersama, dan melewati saat-saat kritis dalam proses kelahiran membuat
keduanya memiliki hubungan yang unik.
2.3 Cara Untuk Melakukan Bounding Attachment
2.3.1 Pemberian ASI
ekslusif
Dengan
dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara
langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu
merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.
2.3.2 Rawat gabung
Rawat gabung
merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi
terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan
antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis
bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang
mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan
dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari. Dengan memberikan ASI
ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan
tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi
ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga
karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi berkunjung
akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga.
2.3.3 Kontak mata
(Eye to Eye Contact)
Beberapa ibu
berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa lebih dekat dengan
bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling
memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan. Bayi baru lahir dapat diletakkan
lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya. Kesadaran untuk
membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai
efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya
sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya.
2.3.4
Suara (Voice)
Mendengar
dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting. orang tua
menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang. Suara tersebut membuat
mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat. Tangis tersebut membuat mereka
melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara
tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka. Respon antara ibu
dan bayi berupa suara masing-masing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama
bayinya. Dari tangisan itu, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik-baik
saja (hidup). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan
jika ia dapat mendengarkan suara-suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak
lahir, meskipun suara-suara itu terhalang selama beberapa hari oleh sairan
amniotik dari rahim yang melekat dalam telinga.
2.3.5
Aroma
/Odor (Bau Badan)
Setiap anak
memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma
susu ibunya. Indera penciuman pada bayi baru lahir sudah berkembang dengan baik
dan masih memainkan peran dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Indera
penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya Asi
pada waktu tertentu.
2.3.6
Gaya bahasa (Entrainment)
Bayi mengembangkan irama akibat
kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan
orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala,
menendang-nendangkan kaki. Entrainment terjadi pada saat anak mulai
bicara. Bayi baru lahir menemukan perubahan struktur pembicaraan dari
orang dewasa. Artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi kultur, jauh
sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat
salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara (gaya
bahasa). Selain itu juga mengisyaratkan umpan balik positif bagi orang tua dan
membentuk komunikasi yang efektif.
2.3.7
Bioritme (Biorhythmicity)
Salah satu
tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua
dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan
memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Janin dalam
rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah ibunya seperti
halnya denyut jantung. Salah satu tugas bayi setelah lahir adalah menyesuaikan
irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberikan perawatan
penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya
bayi untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan
untuk belajar.
2.3.8
Inisiasi
Dini
Setelah bayi
lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan merangkak dan mencari
puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan reflek sucking dengan
segera.
Menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan
fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini :
- Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.
- Reflek menghisap dilakukan dini.
- Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.
- Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal).
2.4 Prinsip-Prinsip dan Upaya
Meningkatkan Bounding Attachment
1. Dilakukan
segera (menit pertama jam pertama).
2. Sentuhan
orang tua pertama kali.
3. Adanya
ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.
4. Kesehatan
emosional orang tua.
5. Terlibat
pemberian dukungan dalam proses persalinan.
6. Persiapan
PNC sebelumnya.
7. Adaptasi.
8. Tingkat
kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.
9. Kontak
sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi,
menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.
10. Fasilitas
untuk kontak lebih lama.
11. Penekanan
pada hal-hal positif.
12. Perawat
maternitas khusus (bidan).
13. Libatkan
anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.
14. Informasi
bertahap mengenai bounding attachment.
2.5 Manfaat
Bounding Attachment
Adapun manfaat dari implementasi teori bounding
attachment jika dilakukan secara baik yaitu:
1. Bayi merasa
dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
2. Bayi merasa
aman, berani mengadakan eksplorasi.
3. Akan sangat
berpengaruh positif pada pola perilaku dan kondisi psikologis bayi kelak.
2.6 Hambatan
Bounding Attachment
Sesuatu yang prosesnya tidak sealur
dengan tujuan dari bounding attachment
dan dapat dikatakan sebagai penghambat dalam bounding attachment adalah:
1. Kurangnya
support sistem.
2. Ibu dengan
resiko (ibu sakit).
3. Bayi dengan
resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
4. Kehadiran
bayi yang tidak diinginkan.
2.7 Peran Bidan dalam Mendukung Terjadinya Bonding
Attachment
1. Membantu
menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca
kelahiran.
2. Memberikan dorongan
pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik
melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.
3. Sewaktu
pemeriksaan ANC, Bidan selalu mengingatkan ibu untuk menyentuh dan meraba
perutnya yang semakin membesar
4. Bidan
mendorong ibu untuk selalu mengajak janin berkomunikasi
5. Bidan juga
mensupport ibu agar dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya dalam
merawat anak, agar saat sesudah kelahiran nanti ibu tidak merasa kecil hati
karena tidak dapat merawat bayinya sendiri dan tidak memiliki waktu yang
seperti ibu inginkan
6. Ketika dalam
kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan salah satu cara bonding
attachment dalam beberapa saat setelah kelahiran, hendaknya Bidan tidak
benar-benar memisahkan ibu dan bayi melainkan Bidan mampu untuk mengundang rasa
penasaran ibu untuk mengetahui keadaan bayinya dan ingin segera memeluk
bayinya. Pada kasus bayi atau ibu dengan risiko, ibu dapat tetap
melakukan bonding attachment ketika ibu member ASI bayinya atau ketika
mengunjungi bayi di ruang perinatal.
2.8 Respon Ayah dan Keluarga Terhadap Bayi Baru Lahir
Reaksi orangtua dan keluarga
terhadap bayi yang baru lahir, berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh
berbagai hal, diantaranya reaksi emosi maupun pengalaman. Masalah lain juga
dapat berpengaruh, misalnya masalah pada jumlah anak, keadaan ekonomi, dan
lain-lain. Respon yang mereka perlihatkan pada bayi baru lahir, ada yang
positif dan ada juga yang negatif. Respon dari setiap ibu dan ayah kepada
bayi mereka dan pengalaman mereka dalam melahirkan berbeda yang meliputi
seluruh spectrum reaksi dan emosi, seperti perasaan sukacita tak
terbatas, kedalaman keputusasaan dan kesedihan. Bidan ikut merasakan
kebahagiaan klien ketika ia dapat memenuhi harapan dan kepuasan klien.
Jika tanggapan tidak menyenangkan, bidan perlu memahami apa yang terjadi
dan memfasilitasi proses kerja yang sehat melalui respon untuk kesejahteraan
setiap orang tua, bayi, dan keluarga. Ini membantu untuk menyimpan
persepsi mereka tentang bayinya.
2.7.1 Respon
Positif
Respon positif dapat ditunjukkan dengan:
1.
Ayah dan
keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan bahagia.
2. Ayah
bertambah giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan baik.
3. Ayah dan
keluarga melibatkan diri dalam perawatan bayi.
4. Perasaan
sayang terhadap ibu yang telah melahirkan bayi.
2.7.2 Respon
Negatif
Respon negatif dapat ditunjukkan dengan:
1. Kelahiran
bayi tidak dinginkan keluarga karena jenis kelamin yang tidak sesuai keinginan.
2. Kurang
berbahagia karena kegagalan KB.
3. Perhatian
ibu pada bayi yang berlebihan yang menyebabkan ayah merasa kurang mendapat
perhatian.
4. Faktor
ekonomi mempengaruhi perasaan kurang senang atau kekhawatiran dalam membina
keluarga karena kecemasan dalam biaya hidupnya.
5. Rasa malu
baik bagi ibu dan keluarga karena anak lahir cacat.
6. Anak yang
dilahirkan merupakan hasil hubungan zina, sehingga menimbulkan rasa malu dan
aib bagi keluarga.
2.7.3
Perilaku
orang tua yang dapat mempengaruhi ikatan kasih sayang antara orang tua terhadap
bayi baru lahir
2.7.3.1 Perilaku Memfasilitasi
1.
Menatap,
mencari ciri khas anak.
2.
Kontak mata.
3.
Memberikan
perhatian.
4.
Menganggap
anak sebagai individu yang unik.
5.
Menganggap
anak sebagai anggota keluarga.
6.
Memberikan
senyuman.
7.
Berbicara/bernyanyi.
8.
Menunjukkan
kebanggaan pada anak.
9.
Mengajak
anak pada acara keluarga.
10. Memahami
perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak.
11. Bereaksi
positif terhadap perilaku anak.
2.7.3.2 Perilaku Penghambat
1. Menjauh dari
anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh
anak.
2. Tidak
menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada
anak.
3. Menganggap
anak sebagai sesuatu yang tidak disukai.
4. Tidak
menggenggam jarinya.
5. Terburu-buru
dalam menyusui.
6. Menunjukkan
kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya.
2.7.4
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Respon Orang Tua Terhadap Bayinya
2.7.4.1 Faktor Internal
Yang termasuk faktor internal antara
lain genetika, kebudayaan yang mereka praktekkan dan menginternalisasikan dalam
diri mereka, moral dan nilai, kehamilan sebelumnya, pengalaman yang terkait,
pengidentifikasian yang telah mereka lakukan selama kehamilan
(mengidentifikasikan diri mereka sendiri sebagai orang tua, keinginan menjadi
orang tua yang telah diimpikan dan efek pelatihan selama kehamilan.
2.7.4.2 Faktor Eksternal
Yang termasuk faktor eksternal
antara lain perhatian yang diterima selama kehamilan, melahirkan dan
postpartum, sikap dan perilaku pengunjung dan apakah bayinya terpisah dari
orang tua selama satu jam pertama dan hari-hari dalam kehidupannya.
2.7.5 Kondisi yang
Memengaruhi Sikap Orang Tua Terhadap Bayi
1.
Kurang kasih
sayang.
2.
Persaingan
tugas orang tua.
3.
Pengalaman
melahirkan.
4.
Kondisi
fisik ibu setelah melahirkan.
5.
Cemas
tentang biaya.
6.
Kelainan
pada bayi.
7.
Penyesuaian
diri bayi pascanatal.
8.
Tangisan
bayi.
9.
Kebencian
orang tua pada perawatan, privasi dan biaya pengeluaran.
10.
Gelisah
tentang kenormalan bayi.
11.
Gelisah
tentang kelangsungan hidup bayi.
12.
Penyakit
psikologis atau penyalahgunaan alkohol dan kekerasan pada anak.
2.7.6 Peran Bidan
dalam Mengatasi Respon Negatif Ayah dan Keluarga
1.
2.8 Sibling Rivalry
2.8.1 Pengertian
Sibling Rivalry
1. Kamus
kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling
bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu
perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme.
Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk
mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya,
atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.
2. Sibling
rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki
dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua
anak atau lebih.
Sibling rivalry atau
perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi
anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat
mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar
anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate
relationship.
2.8.2 Penyebab
Sibling Rivalry
Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain:
1. Masing-masing
anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada
saudara mereka.
2. Anak merasa
kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka.
3. Anak-anak
merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota
keluarga baru/ bayi.
4. Tahap
perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses
kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.
5. Anak
frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.
6. Kemungkinan,
anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan
saudara mereka.
7. Dinamika
keluarga dalam memainkan peran.
8. Pemikiran
orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga
adalah normal.
9. Tidak
memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.
10. Orang tua
mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.
11. Anak-anak
mengalami stres dalam kehidupannya.
12. Cara orang
tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.
2.8.3 Segi Positif
Sibling Rivally
Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian
yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain:
1. Mendorong
anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan
penting.
2. Cara cepat
untuk berkompromi dan bernegosiasi.
3. Mengontrol
dorongan untuk bertindak agresif.
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat
dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator.
2.8.4 Mengatasi
Sibling Rivally
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anak dapat bergaul
dengan baik, antara lain:
1. Tidak
membandingkan antara anak satu sama lain.
2. Membiarkan
anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.
3. Menyukai
bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.
4. Membuat
anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.
5. Memberikan
perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
6. Mengajarkan
anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama
lain.
7. Bersikap
adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil
bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
8. Merencanakan
kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.
9. Meyakinkan
setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.
10. Orang tua tidak perlu langsung
campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.
11. Orang tua harus dapat berperan
memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.
12. Orang tua dalam memisahkan anak-anak
dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.
13. Jangan memberi tuduhan tertentu
tentang negatifnya sifat anak.
14. Kesabaran dan keuletan serta
contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara
pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling
bagus.
2.8.5 Adaptasi
Kakak Sesuai Tahapan Perkembangan
Respon kanak-kanak atas kelahiran
seorang bayi laki-laki atau perempuan bergantung kepada umur dan tingkat
perkembangan. Biasanya anak-anak kurang sadar akan adanya kehadiran anggota
baru, sehingga menimbulkan persaingan dan perasaan takut kehilangan kasih
sayang orang tua. Tingkah laku negatif dapat muncul dan merupakan petunjuk
derajat stres pada anak-anak ini.
Tingkah laku ini antara lain berupa:
Tingkah laku ini antara lain berupa:
1. Masalah tidur.
2. Peningkatan
upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain.
3. Kembali ke
pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti: ngompol dan menghisap jempol.
2.8.6 Peran Bidan
Peran bidan dalam mengatasi sibling rivalry,
antara lain:
1. Bidan
mengarahkan ibu untuk menyiapkan secara dini kelahiran bayinya
2. Bidan
menyarankan pada ibu untuk memberi penjelasan yang kongkrit tentang pertumbuhan
bayi dalam rahim dengan menunjukan gambar sederhana tentang uterus dan perkembangan
fetus pada anak pertama atau tertuanya
3. Bidan
memberi informasi pada ibu bahwa memberi kesempatan anak untuk ikut gerakan
janin/adiknya dapat menjalin kasih sayang antara keduanya, dan anak akan
mengerti akan kehadiran adiknya
4. Bidan menyarankan
ibu untuk melibatkan anak dalam perawatan bayi
5. Bidan
mengingatkan ibu untuk selalu memberi pengertian mendasar tentang perubahan
suasana rumah seperti alasan pindah kamar pada anak tertuanya
6. Bidan
menyarankan kepada ibu untuk tetap melakukan aktifitas yang biasa dilakukan
bersama anak seperti mendongeng sebelum tidur atau piknik bersama
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah mendiskusikan makalah yang
telah disusun ini, dapat disimpulkan bahwa, ketika kelahiran akan menimbulkan
respon keterikatan bayi dan orangtuanya (bonding attachment) yang juga telah
dimulai sejak saat dalam kandungan dan akan lebih baik jika ibu tidak
menghiraukan saja bayi/janin yang sedang dikandungnya melainkan ibu seharusnya
berkomunikasi dengan janin, baik itu dengan sentuhan untuk meraba gerakan janin
dan membiarkan janin mendengar ibunya berbicara terhadapnya. Setelah
kelahiran bayi juga akan menimbulkan respon dari sang ayah dan keluarga, dimana
respon tersebut ada yang bersifat positif dan negatif. Seorang ayah dan
keluarga seharusnya memberikan respon yang positif dan memfasilitasi bayi agar
merasa diterima dan dapat tumbuh serta berkembang tanpa ada masalah penolakan
dari ayahnya. Untuk meminimalisir segala bentuk respon ayah yang negatif,
kehamilan ibu sebaiknya harus benar-benar direncanakan. Pada saat
kehamilan, anak pertama atau tertua ibu sebaiknya diberi pengertian bahwa
sebentar lagi dia akan memiliki seorang adik yang akan menemaninya, anak juga
jangan sampai merasa perhatiannya berkurang karena ibu lebih memerhatikan
janinnya, sehingga pada saat kelahiran bayi/adiknya anak pertama akan merasa
tersaingi dalam arti kasih sayang yang dulu ibu dan ayahnya berikan hanya untuk
dirinya, sekarang sudah tidak bisa lagi penuh.
Read more: http://ilmu-pasti-pengungkap-kebenaran.blogspot.com/2012/05/bounding-attachment.html#ixzz1vfoy1wjx
Pengertian Bounding Attachment
- Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir.
- Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir, attachment: ikatan yang terjalin antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi dan fisik yang akrab.
- Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir; attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.
- Bennet dan Brown (1999), bounding: terjadinya hubungan antara orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, attachment: pencurahan kasih sayang di antara individu.
- Brozeton (dalam Bobak, 1995): permulaan saling mengikat antara orang-orang seperti antara orang tua dan anak pada pertemuan pertama.
- Parmi (2000): suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir.
- Perry (2002), bounding: proses pembentukan attachment atau membangun ikatan; attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.
- Subroto (cit Lestari, 2002): sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi.
- Maternal dan Neonatal Health: adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan post partum.
- Harfiah, bounding: ikatan; attachment: sentuhan.
Tahap-Tahap Bounding
Attachment
- Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, erbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
- Bounding (keterikatan)
- Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.
Menurut
Klaus, Kenell (1982), bagian penting dari ikatan ialah perkenalan.
- Sentuhan – Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.
- Kontak mata – Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).
- Suara – Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.
- Aroma – Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).
- Entrainment – Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.
- Bioritme – Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.
- Kontak dini – Saat ini , tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tua–anak.
Namun
menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak
dini :
- Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.
- Reflek menghisap dilakukan dini.
- Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.
- Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal).
Prinsip-Prinsip
dan Upaya Meningkatkan Bounding
Attachment
- Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
- Sentuhan orang tua pertama kali.
- Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.
- Kesehatan emosional orang tua.
- Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
- Persiapan PNC sebelumnya.
- Adaptasi.
- Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.
- Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.
- Fasilitas untuk kontak lebih lama.
- Penekanan pada hal-hal positif.
- Perawat maternitas khusus (bidan).
- Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.
- Informasi bertahap mengenai bounding attachment.
Keuntungan Bounding
Attachment
- Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
- Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
Hambatan Bounding
Attachment
- Kurangnya support sistem.
- Ibu dengan resiko (ibu sakit).
- Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
- Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar