Kehamilan palsu
(pseudocysis) adalah suatu keadaan dimana seseorang wanita berada dalam kondisi
yang menunjukkan berbagai tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapat
menstruasi, adanya mual-muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan, dan
gejala kehamlan lainnya, bahkan kadang kala hasil tes urin dapat menjadi
positif palsu (fals positif), tetapi sesungguhnya tidak benar-benar hamil
(suririna, 2005). Faktor yang sangat sering berhubungan dengan terjadinya
kehamilan palsu adalah fakor emosional/psikis
yang menyebabkan kelenjar pituiteri terpengaruh sehingga menyebabkan kegagalan system endokrin dalam mengontrol hormon yang menimbulkan keadaan seperti hamil.
yang menyebabkan kelenjar pituiteri terpengaruh sehingga menyebabkan kegagalan system endokrin dalam mengontrol hormon yang menimbulkan keadaan seperti hamil.
1.
Tanda gejala gangguan psikologi pseudocyesis
Wanita dengan kondisi pseudocyesis memiliki kondisi psikologis
seperti berikut ini:
a.
Adanya sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya, yaitu
ingin sekali menjadi hamil,sekaligus tidak ingin menjadi hamil. Ingin
memiliki anak yang dibarengi dengan rasa takut untuk menetralisasi keinginan
mempunyai anak.
b.
Keinginan untuk menjadi hamil terutama tidak sekali timbul dari
dorongan keibuan, akan tetapi khusus dipacu oleh dendam, sikap bermusuhan, dan
harga diri. Sebagai contoh wanita yang steril.
c.
Secara bersamaan muncul kesedian untuk menyadari, sekaligus
kesedian untuk tidak mau menyadari bahwa kehamilannya adalah ilusi belaka.
d.
Wanita dengan pseudocyesis tidak telepas dari pseudologi, yaitu
fantasi-fantasi kebohongan yang
selalu ditampilkan kedepan untuk mengingkari hal-hal yang tidak menyenangkan.
2.
Pengelolaan gangguan psikologis pada pseudocyesis
Peristiwa pseudocyesis merujuk pada peristiwa pseudologia, yaitu fantasi-fantasi kebohongan
yang selalu ditampilkan kedepan untuk mengingkari atau menghindari realita yang
tidak menyenangkan. Wanita pseudoyesis ingin sekali menonjolkan egonya untuk
menutupi kelemahan dirinya, oleh karena itu dipilihlah aliran konseling
psikoanalisis dengan menekankan pentingnya riwayat hidup klien, pengaruh dari
pengalaman diri pada kepribadian
individu, serta irosionalitas dan sumber-sumber tak sadar dari tingkah laku manusia.
Peran konselor dalam hal ini adalah
menciptakan suasana senyaman mungkin agar klien merasa bebas untuk
mengekspresikan pikiran-pikiran yang sulit. Proses ini bisa dilakukan dengan
meminta klien berbaring di sofa dan konselor di belakang (sehingga tidak
terliahat). Konselor berupaya agar klien mendapat wawasan dengan menyelami
kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalu yang belum
terselesaikan. Dengan begitu klien diharapkan dapat memperoleh kesadaran diri,
kejujuran dan hubungan pribadi yang lebih efektif, dapat menghadapi ansietas
dengan realistis, serta dapat mengendalikan tingkah laku irasional (lesmana
2006).
Gangguan Psikologis Pada Kehamilan Dengan Keguguran
1.
Konsep keguguran / abortus
Abortus spontan
adalah suatu keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup
hidup sendiri di luar uterus (berat
400-1.000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu), sedangakan abortus
kriminalis adalah abortus yang
tejadi karena tindakan-tindakan yang
tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis (Rustam,M.,1998).
2.
Faktor Penyebab Abortus
v Kemiskinan atau
ketidakmampuan ekonomi
v Moralitas sosial
v Rasa malu dan
aib
v Hubungan cinta
yang tidak harmonis
v Pihak pria yang
tidak bertanggung jawab
v Kehamilan yang
tidak diinginkan
3.
Tanda dan Gangguan Psikologi pada Abortus
v Reaksi
psikologi wanita terhadap keguguran bergantung pada konstitusi psikisnya
sendiri
v Menimbulkan
sindrom pasca abortus yang meliputi menangis terus-menerus, depresi
berkepanjangan, perasaan bersalah, ketidakmampuan untuk memaafkan diri sendiri, kesedihan mendalam,
amarah, kelumpuhan emosional, problem
atau kelainan seksual, kekacauan
pola makan, perasaan rendah diri, penyalahgunaan alcohol dan obat-obat
terlarang, mimpi-mimpi buruk dan gangguan tidur lainnya, dorongan untuk bunuh
diri, kesulitan dalam
relasi, serangan
gelisah dan panic, serta selalu
melakukan kilas balik.
4.
Pengelolaan Gangguan Psikologi Pada Wanita Pasca-abortus
Sindrom pasca–abortus berada dalam kategori ”kekacauan
akibat stress pasca-trauma” The American Psychiatric Association (APA)
menjelaskan bahwa kekacuan akibat setres pasca-trauma terjadi apabila orang
mengalami suatu peristiwa yang melampaui
batas pengalaman manusia biasa, dimana
pengalaman ini hampir dipastikan
akan mengguncangkan jiwa siapa saja. Sindrom
pasca
abortus ditangani dengan konseling kejiwaan dan psikologis, namun demikian menyembuhkan
secara rohani juga diperlukan. Pada dasarnya, terapi konseling untuk wanita
post-aborsi tidak jauh berbeda dengan konseling karena kehilangan, dimana dalam
konseling ini harus memperhatikan setiap fase dalam penerapannya.
Referensi :
Mansur, Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Jakarta
Selatan. Penerbit Salemba Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar