Kamis, 05 Juli 2012

Pseudocysis

1. Gangguan Psikologi Pada Kehamilan Palsu (Pseudocyesis)


Kehamilan palsu (pseudocysis) adalah suatu keadaan dimana seseorang wanita berada dalam kondisi yang menunjukkan berbagai tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapat menstruasi, adanya mual-muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan, dan gejala kehamlan lainnya, bahkan kadang kala hasil tes urin dapat menjadi positif palsu (fals positif), tetapi sesungguhnya tidak benar-benar hamil (suririna, 2005). Faktor yang sangat sering berhubungan dengan terjadinya kehamilan palsu adalah fakor emosional/psikis

yang menyebabkan kelenjar pituiteri terpengaruh sehingga menyebabkan kegagalan system endokrin dalam mengontrol hormon yang menimbulkan keadaan seperti hamil.
1.      Tanda gejala gangguan psikologi pseudocyesis
Wanita dengan kondisi pseudocyesis memiliki kondisi psikologis seperti berikut ini:
a.       Adanya sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya, yaitu ingin sekali menjadi hamil,sekaligus tidak ingin menjadi hamil. Ingin memiliki anak yang dibarengi dengan rasa takut untuk menetralisasi keinginan mempunyai anak.
b.      Keinginan untuk menjadi hamil terutama tidak sekali timbul dari dorongan keibuan, akan tetapi khusus dipacu oleh dendam, sikap bermusuhan, dan harga diri. Sebagai contoh wanita yang steril.
c.       Secara bersamaan muncul kesedian untuk menyadari, sekaligus kesedian untuk tidak mau menyadari bahwa kehamilannya adalah ilusi belaka.
d.      Wanita dengan pseudocyesis tidak telepas dari pseudologi, yaitu fantasi-fantasi kebohongan yang selalu ditampilkan kedepan untuk mengingkari hal-hal yang tidak menyenangkan.

2.      Pengelolaan gangguan psikologis pada pseudocyesis
Peristiwa pseudocyesis merujuk pada peristiwa  pseudologia, yaitu fantasi-fantasi kebohongan yang selalu ditampilkan kedepan untuk mengingkari atau menghindari realita yang tidak menyenangkan. Wanita pseudoyesis ingin sekali menonjolkan egonya untuk menutupi kelemahan dirinya, oleh karena itu dipilihlah aliran konseling psikoanalisis dengan menekankan pentingnya riwayat hidup klien, pengaruh dari pengalaman  diri pada kepribadian individu, serta irosionalitas dan sumber-sumber tak sadar dari tingkah laku manusia. Peran konselor dalam hal ini adalah menciptakan suasana senyaman mungkin agar klien merasa bebas untuk mengekspresikan pikiran-pikiran yang sulit. Proses ini bisa dilakukan dengan meminta klien berbaring di sofa dan konselor di belakang (sehingga tidak terliahat). Konselor berupaya agar klien mendapat wawasan dengan menyelami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan. Dengan begitu klien diharapkan dapat memperoleh kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang lebih efektif, dapat menghadapi ansietas dengan realistis, serta dapat mengendalikan tingkah laku irasional (lesmana 2006).

Gangguan Psikologis Pada Kehamilan Dengan Keguguran
1.      Konsep keguguran / abortus
Abortus spontan adalah suatu keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri di luar uterus (berat 400-1.000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu), sedangakan abortus kriminalis adalah abortus yang tejadi karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis (Rustam,M.,1998).

2.      Faktor Penyebab Abortus
v  Kemiskinan atau ketidakmampuan ekonomi

v  Moralitas sosial
v  Rasa malu dan aib
v  Hubungan cinta yang tidak harmonis
v  Pihak pria yang tidak bertanggung jawab
v  Kehamilan yang tidak diinginkan

3.      Tanda dan Gangguan Psikologi pada Abortus
v  Reaksi psikologi wanita terhadap keguguran bergantung pada konstitusi psikisnya sendiri
v  Menimbulkan sindrom pasca abortus yang meliputi menangis terus-menerus, depresi berkepanjangan, perasaan bersalah, ketidakmampuan untuk memaafkan diri sendiri, kesedihan mendalam, amarah, kelumpuhan emosional, problem atau kelainan seksual, kekacauan pola makan, perasaan rendah diri, penyalahgunaan alcohol dan obat-obat terlarang, mimpi-mimpi buruk dan gangguan tidur lainnya, dorongan untuk bunuh diri, kesulitan dalam relasi, serangan gelisah dan panic, serta selalu melakukan kilas balik.

4.      Pengelolaan Gangguan Psikologi Pada Wanita Pasca-abortus
Sindrom pasca–abortus berada dalam kategori ”kekacauan akibat stress pasca-trauma” The American Psychiatric Association (APA) menjelaskan bahwa kekacuan akibat setres pasca-trauma terjadi apabila orang mengalami suatu peristiwa yang melampaui batas pengalaman manusia biasa, dimana pengalaman ini hampir dipastikan akan mengguncangkan jiwa siapa saja. Sindrom pasca abortus ditangani dengan konseling kejiwaan dan psikologis, namun demikian menyembuhkan secara rohani juga diperlukan. Pada dasarnya, terapi konseling untuk wanita post-aborsi tidak jauh berbeda dengan konseling karena kehilangan, dimana dalam konseling ini harus memperhatikan setiap fase dalam penerapannya.

Referensi :
Mansur, Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Jakarta Selatan. Penerbit Salemba Medika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar