Sabtu, 30 Maret 2013

SIKOLOGI TES MENGGAMBAR ORANG DENGAN PERKEMBANGAN ANAK



A.    LATAR BELAKANG
Dalam sebuah penelitian di Fakultas Psikologi UI, didapatkan bahwa tingkat validitas tes grafis yang dimaksud diatas sangat rendah. Ini membuktikan bahwa keakuratan tes grafis dipertanyakan. Tetapi kita masih banyak menemukan pemakaian alat tes ini secara luas di masyarakat (khususnya di Indonesia) oleh psikolog-psikolog kita di Indonesia. Ini adalah sebuah pertanyaan besar, menggunakan sebuah alat tes yang tidak valid (tidak akurat) dalam menentukan hidup seseorang.
Ada dua alasan yang membuat alat tes grafis tidak akurat dalam penggunaannya, yaitu
:
1.      Culture Bias
Budaya menentukan normal tidaknya seseorang, sehingga normal atau tidaknya seseorang itu adalah sebuah sikap subjektif budaya, artinya interpretasi terhadap kenormalan berbeda-beda untuk setiap budaya, bahkan bisa saja, normal di salah satu budaya, tetapi pandangan terhadap budaya lain itu adalah sebuah tingkah laku yang abnormal.
Tes grafis dibuat di Barat, tentunya dengan menggunakan standar kenormalan nilai-nilai yang di anut di Barat. Kita berikan salah satu contoh, misalnya pemakaian penutup kepala (misalnya jilbab) di timur, dalam interpretasi alat tes grafis, ini adalah sebuah penyimpangan tingkahlaku yang diungkap dalam tes grafis. Menutupi kepala adalah menutupi kekurangan, tidak terbuka, atau ada sesuatu hal yang membuat orang tersebut tidak menampilkan apa adanya. Ini adalah salah satu interpretasi dalam menutupi kepala pakai (jlbab). Bandingkan dengan budaya timur (Agama Islam), memakai jlbab adalah sebuah hal yang ideal, normal, bahkan nilai dalam Agama Islam mengharuskan memakaianya, artinya yang tidak memakai adalah sebuah keabnormalan dalam budaya Islam. Ini adalah salah satu contoh dari interpresi Tes Grafis yang bias budaya.
2.      Habitual Personal Bias
Kebiasaan setiap orang akan berbeda. Dari jenis kebiasaan yang berbeda diberikan sebuah stimulus yang sama, tentunya akan memberikan respon yang berbeda pula, tergantung dari referensi yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan.
Seseorang yang sudah terbiasa menggambar, apalagi seorang pelukis akan berbeda dengan orang yang memang sejak lahir jarang atau tidak pernah melakukan kegiatan ini. Memang, dalam tes Grafis yang di nilai bukan bagus tidaknya gambar, yang dihasilkan, tapi bagaimana seseorang menarik garis dalam membentuk gambar, tetap saja unsur kebiasaan sangat berpengaruh.
Sikap dan kebiasaan masyarakat di timur dalam mengungkapkan perasaan sangat berbeda di barat. Masayarakat di timur, kepribadian adalah sebuah aib yang harus dijaga, ditutupi. Berbeda dengan budaya di barat, kepribadian cenderung terbuka, asertif, katakan suka kalau suka, dan katakan benci jika benci.
Dengan menggunakan interpretasi yang sama, dalam menggungkap kepribadian yang berbeda dan latar belakang budaya yang berbeda, tentunya akan menghasikan interpretasi yang bias. Memang sudah ada usaha dalam adaptasi alat tes untuk menjaga bias-bias diatas, tetapi pada alat Tes Grafis saya belum pernah mendengarnya.
Alangkah bijaknya jika alat tes grafis diadakan uji validitas ulang untuk mengetahui tingkat keterpercayaannya. Apalagi alat tes ini masih banyak di gunakan di sekitar kita, tentunya akan merugikan pihak pengguna alat tes ini. Tetapi disinyalir bahwa, tes Grafis mempunyai tingkat akurasi rendah, berdasarkan logika-logika yang ada.



B.     TUJUAN
1.      Mahasiswa mampu melaksanakan tes menggambar pada anak dalam tes intelegensi anak
2.      Mahasiswa mengetahui mengenai kemampuan anak dalam menyampaikan kekreatifitasan anak melaliu menggambar pada tes yang tersedia


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN
Draw Person Test (Tes menggambar orang), Draw Tree Test (Tes menggambar pohon), atau HTP (Human Tree Person/ gambar rumah, pohon dan orang) adalah salah satu contoh dari tes grafis yang sangat luas digunakan di Indonesia dalam mengungkap sisi-sisi kepribadian.
Tes ini berawal dari teori yang mengatakan bahwa kepribadian manusia diprojeksikan dalam bentuk tingkah laku. Teori Psikoanalisa mengatakan bahwa projeksi kepribadian bisa diungkap dengan memanipulasi instruksi yang tidak diketahui oleh subjek (testee), salah satu bentuknya adalah tes gambar.Memang sebuah kesulitan mengungkap kepribadian manusia yang abstrak, apalagi sisi kepribadian manusia unik dan personal. Sehingga berawal dari teori diatas, para ahli psikologi menciptakan alat tes yang bisa membaca sisi kepribadian manusia. Pada dasarnya, alat tes psikologi digunakan untuk mempermudah membaca kepribadian manusia, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, sisi keakuratan alat tes itu sendiri.
Dapat di prediksi bahwa dampak dari ketidakakuratan sebuah alat tes sangat besar. Apalagi sebuah alat tes psikologi dipergunakan untuk menentukan hidup seseorang. Ini akan menyangkut privasi, nama baik, normal atau tidaknya seseorang tergantung dari alat tes psikologi tersebut.

B.     SEJARAH PERKEMBANGAN TES MENGGAMBAR
1.      Tes DAP
Pada tahun 1948, Buck mengembangkan House-Tree-Person (HTP) Test, gambar rumah dan pohon yang memiliki kedekatan dengan kehidupan seseorang yang juga termasuk tes proyeksi.
Tahun 1949, Machover mengembangkan Draw-A-Person (DAP) Test, sebagai teknik untuk mengukur kepribadian. Machover mengembangkan sejumlah hipotesis berdasarkan obeservasi klinis dan penilaian intuitif. Misal, ukuran gambar berkaitan dengan tingkat self-esteem, penempatan gambar dalam kertas merefleksikan suasana hati dan orientasi sosial seseorang.
Selanjutnya tahun 1951, Hulse mengembangkan Draw-A-Family (DAF) Test, DAP secara luas kemudian dikembangkan oleh Hammer (1958), Headler (1985), Urban (1963), Koppitz (1968, 1984).
Tahun 1963, Harris membuat revisi DAM Test dengan menambahkan dua form baru (anak bukan hanya diminta untuk menggambar seorang laki-laki, tetapi juga seorang wanita, dan gambar dirinya sendiri, sistem skoring yang lebih detail, dan standarisasi yang lebih luas.
Seorang tokoh tes psikologi, Levy mengemukakan beberapa kemungkinan dalam penggunaan Tes DAM (Draw A Man) atau tes DAP (Draw A Person), diantaranya sebagai berikut:
a.       Gambar orang tersebut merupakan proyeksi dari self concept 
b.      Proyeksi dari sikap individu terhadap lingkungan
c.       Proyeks dari ideal self image-nya
d.      DAM sebagai suatu hasil pengamatan individu terhadap lingkungan
e.       Sebagai ekspresi dari pola-pola kebiasaan (habit pattern)
f.       Ekspresi dari keadaan emosinya (emotional tone) 
g.      Sebagai sikap subjek terhadap tester dan situasi tes tersebut
h.      Sebagai ekspresi dari sikap individu terhadap kehidupan/masyarakat pada umumnya
i.        Ekspresi sadar dan ketidaksadarannya.
2.      Tes DAT
DAT disusun oleh George George K. Bennet & Harold G. Wesman. Pada awalnya dibuat untuk mendapatkan prosedur ilmiah dalam menilai murid-murid baik sekolah laki-laki dan perempuan, secara terintegrasi dan terstandar. Tetapi juga secara luas dipakai dalam dunia perusahaan.
DAT termasuk tes bakat. Pada umumnya, tes bakat dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.                 Test Special Aptitude: terfokus pada satu bakat saja. Misal mengukur bakat dibidang teknik mekanik, bakat pekerjaan tertentu (klerikal) dsb.
2.                  Bateries test: Terdiri dari sejumlah tes, dapat diperoleh analisis profil untuk seseorang individu (intra individu).
Tes DAT masuk sebagai test special aptitude, yang mana dikhususkan untuk mengukur bakat secara spesifik. Contoh tes lain yang mengukur tes bakat secara spesifik seperti IST (Intelligence Structural Test), FACT (Flanagan Aptitude Classification Test), GATB (General Aptitude Test Battery) dan lain-lain.
Tes IQ dipandang sudah tidak memadai lagi dalam memprediksi/ketepatan kemampuan seseorang. Hal tersebut dilatarbelakangi dengan makin sadarnya para ahli psikologi bahwa kemampuan mental tidak hanya terdiri dari satu faktor saja, tapi banyak faktor. Jadi dibutuhkan tes yang mengukur bermacam-macam faktor ini, dan tidak menghasilkan skor tunggal saja, tapi juga beberapa skor sesuai dengan kemampuan yang diukur.
Tes DAT terdiri atas 7 tes, yaitu: 
1.      Verbal reasoning test 
2.      Numerical ability test 
3.      Abstract rationing test 
4.      Space relation test 
5.      Mechanical rationing test 
6.      Clerical speed and Accuracy test
7.      Language usage-part 1: spelling, part 2: sentences.
3.      Tes HTP
Psikotes House Tree Person (HTP) adalah tes psikologi yang pertama kali dikembangkan oleh John Buck pada tahun 1948. Buck meyakini bahwa goresan gambar seseorang (dalam hal ini gambar rumah, pohon dan orang) dapat mewakili karakter pribadinya.
Pada tes ini, peserta tes diminta untuk menggambar sebuah rumah, sebuah pohon dan seorang manusia. Yang kemudian hasil masing-masing gambar tersebut dievaluasi dari berbagai aspek untuk menilai karakter kepribadian peserta tes
Berikut beberapa alasan digunakannya tes HTP
Sama seperyi tes DAP dan BAUM, yaitu:
1.      Karena ketiga objek tersebut paling dikenal oleh orang
2.      Hampir semua orang tak menentang diminta menggambar House Tree Person
3.       Dibandingkan dengan objek lain, objek yang lebih dapat menstimulir verbalisasi yang sifatya jujur dan bebas.
4.         Tes Warteg
Tes Warteg (Warteg Test) adalah tes yang diberikan stimulasi gambar yang sudah ada dalam kotak yang berjumlah delapan kotak, peserta tes diharapkan meneruskan gambar stimulus tersebut. Dalam psikotest itu dinamakan Wartegg Test.
 Ada 8 kotak berisi lambang  ( bentuk yang harus diselesaikan ). Test ini untuk mengukur emosi, imajinasi, intelektual dan aktifitas subjek. Dalam test ini, kita diminta untuk melengkapi gambar yang ada di kotak-kotak tersebut ( 4 garis lurus & 4 garis lengkung ). Setelah itu, kita diminta untuk mengurutkan gambar dalam kotak nomor berapa yang terlebih dahulu dibuat dan memberi nama gambar. Kemudian kita diminta menuliskan gambar mana yang paling mudah, paling sulit, paling disukai dan tidak disukai.
Dari cara menggambar ini bisa dilihat kepribadian seseorang. Apa yang kita gambarpun ‘konon’ juga menunjukkan kepribadian dan kemampuan IQ kita.
Namun, psikotest tersebut hanyalah buatan manusia untuk mengetahui kepribadian secara umum.
5.         Tes TAT
TAT diciptakan oleh seorang psikolog dari Harvard bernama Morgan dan Murray dan TAT yang lazim dilakukan kepada orang-orang terdiri dari setumpuk kartu bergambar, yang mengandung ekspresi-ekspresi yang kuat. Kartu TAT ini juga di kategorikan berdasarkan gender, B untuk boys, G untuk girls dan M-F untuk male and female, yakni untuk kedua jenis.
Bentuk modifikasi dari TAT adalah CAT (Childrena’s Apperception Test), yang menyediakan gambar yang terfokus pada konflik, hubungan orang tua, permusuhan dengan saudara kandung, dan situasi lain yang sering ditemui pada anak-anak.
Tes lain yang mirip dengan TAT dan CAT adalah Michigan Picture Story Test (MPST), terdiri dari material yang menggambarkan anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bermanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.
Selain itu ada juga tes Make-A-Picture Story (MAPS), yang memiliki kesamaan dengan MPST dalam hal tujuan dan potensi interpretasi yang dimiliki. Perbedaan MAPS dengan tes lain yaitu, pada MAPS klien diperbolehkan memilih karakter yang akan diletakkan pada latar belakang panggung yang kecil, untuk kemudian klien membuat cerita berdasarkan situasi tersebut.
TAT ini didasarkan pada teori needs Murray yang memandang bahwa dalam suatu perilaku manusia pasti didorong oleh adanya motivasi internal dan eksternal, sedangkan lingkungan dipandang sebagai press (tekanan) yang mempengaruhi dorongan tersebut. Keduanya akan membentuk suatu interaksi antara kebutuhan dan lingkungan yang disebut sebagai tema. Kesatuan tema merupakan kesatuan interaksi itu yang terbentuk sejak jaman kanak-kanak tanpa disadari, dan ini merupakan kunci dari suatu perilaku unik (khas) seseorang.
Dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, klien berespon terhadap stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu sehingga tanpa sadar klien mengungkap struktur dasar dan dinamika kepribadiannya. Beberapa teknik proyektif yang terkenal dan digunakan secara luas antara lain tes Rorschach, Thematic Apperception Test (TAT), ChildrenÂ’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Picture Story Test, dan Sentence Completion Test.
6.         Tes rorscharch
Hasil penelitian psychodiagnostik (1921) dengan Eksperimen  ,menyeleksi satu sesi bercak tinta (10 kartu ) dari beribu-ribu kartu. Cara pembuatan kartu : meneteskan tinta pada selembar kertas putih kemudian dilipat di tengah dan ditekan. Pola yang diujicobakan, harus memenuhi syarat
1.         Bentuk gambar tersebut relatif simpel, gambar yang terlalu kompleks akan sulit dianalisis dalam eksperimennya
2.         Distribusi bercak harus memenuhi percyaratan komposisi tertentu.
3.         bercak tidak terlalu sugestif
4.         Komposisi bercak yang digunakan untuk penelitian sebagian besar adalah sistematis meskipun sedikit perbedaan kecil antara sebelah kiri dan kanan. Setelah menyelidiki beribu-ribu kartu, akhirnya diperoleh 10 kartu yang digunakan sampai sekarang.
Penelitian intensif tentang jawaban dari respon subjek, Eksperimennya tersebut ”interpretation of accidental forms”, yaitu bentuk-bentuk tidak spesifik karena orang dapat melihat dan menginterpretasikan bercak tinta sebagai bentuk yang ber-aneka macam tergantung dari cara mempersepsikan.
Subjek eskperimen psikopatik, kasus-kasus alkoholik, retardasi mental skizophrenia, manic-depressif, epilepsi, paretic, demensia senilis, demensia arteriosklerosis, dan korsakoff, orang-orang normal yang berpendidikan dan tidak berpendidikan. Dan membuat tiga seri bercak tinta yang pararel dengan seri yang telah standar. Dari hasil eksperimen, Roschah melakukan analisis fungsi terhadap persepsi subjek. Isi jawaban subjek dipertimbangkan paling akhir.
Pertanyaan Roschah sebagai dasar analisis adalah (Roschah, 1981) :
1.      Berapa jumlah respon yang diberikan? Berapa lama waktu reaksinya?seberapa sering penolakan untuk memberikan jawaban untuk beberapa kartu?
2.      Apakah jawaban ditentukan hanya oleh bentuk bercak saja atau ada persepsi terhadap gerakan dan warna
3.      Apakah bercak itu diinterpretasi secara keseluruhan atau sebagian ? Bagian mana yang diinterpretasi?
4.      Apa yang dilihat oleh subjek (isi jawaban ) Roschah belum menggunakan shading, : gelap-terangnya bercak sebagai salah satu aspek bercak yang perlu dianalisis.
Klopfer (1962) teknik Rorschah merupakan puncak keberhasilan dari penelitian sebelumnya. Hal yang membedakan dengan penelitian sebelumnya. Ahli sebelumnya hanya menganalisa bercak tinta dari segi isi dan respon serta imajinasi sedangkan Roschah berdasarkan fungsi persepsi karena imajinasi hanya berperan sedikit. Persepsi adalah proses asosiasi yang integratif antara gambaran-gambaran ingatan dengan penginderaan sehingga terjadi tiga proses: sensasi, memori, asosiasi. Yang dipentingkan Roschah bukan aspek dari isi jawabanm tetapi juga aspek formal dan strukturil yaitu menekankan untuk memahami bagaimana seseorang memandang bercak tinta, bukan apa isi dari responnya. Kemudian Rorchah mengolah  respon subjek dalam kategori-kategori analisa yang dikenal dengan kategori-kategori skoring.
Periode sesudah Roschach
1.      Emil Obelholzer (1924)(Asisten Rorschach yang menerjemahkan tulisan Rorschah dalam bahasa Inggris)
2.       David Levy( Memperkenalkan di Amerika, dilatih oleh Obelholzer)
3.       Samuel Beck (Dipengaruhi Levy, menerbitkan Tes Rorschah dan mengembangkan metode interpretasi)
4.       Hertz ( Penelitian : aspek metodologis)
5.       Bruno Klopfer

Tahun 1934, mengembangkan ide tes Rorschah, teknik scoring. Tahun 1936 mendirikan Rorschah Institute yang melatih para ahli menggunakan tes Rorschah. Tahun 1948 Rorschah Institute berubah menjadi Projective Technique yang menerbitkan Journal of Projective Technique, TAT dan tes proyeksi lainnya. Selain itu banyak banyak alat tes yang menggunakan bercak tinta untuk melengkapi kelemahan tes Rorschah :
1.         Bero, yang dirancang sebagai tes Rorschah untuk anak-anak
2.         Zullinger Test (Z-test) yang dirancang hanya dengan menggunakan 3 kartu bercak tinta yang lebih kompleks
3.         Group Rorschah, yaitu pelaksanaan administrasi tes Rorschah secara klasikal. Pertama kali dirintis oleh Harrower dan Steiner dengan memproyeksikan bercak tinta lewat slide, juga dikembangkan dengan multiple choice.
4.         Holtzman Ink Blot technique yang dirancang untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan metodologis tes Rorschah.
5.         Piotrowskis Automated Rorschah (PAR) yang dirancang Piotrowski tahun 1974 menggunakan komputer untuk skoring dan interpretasinya.

C.    PENILAIAN TES
1.      Tes DAP
a.          Kepala
1)    Tempat penghayatan mengenai diri atau ego. 
2)    Menemukan gambaran tentang bgm seseorang menggambarkan interaksinya dengan orang lain/lingkungan menurut konsepnya.
3)    Bagian-bagian dari kepala: (Mata, Telinga, Mulut, Hidung, Dagu dan Rambut)
b.         Lengan, tangan, bahu dan dada
1)      Ukuran, bentuk, kekuatan, kemampuan meraih, derajat agresi dan tanda-tanda konflik lainnya. 
2)      Kesan-kesan yang muncul saat subjek mengamati area ini:
3)      Apakah subjek menarik diri dari lingkungan
4)      Berusaha meraih lingkungan
5)      Merasa aman atau terancam atau lemah
c.          Torso (badan) / trunk of the body
1)         Area ini mewakili betul bagaimana seseorang ingin tampil dan hal-hal apa saja yang ia tekankan dalam upayanya menampilkan diri di lingkungan. 
2)         Jika gambar figur telanjang dan bagian-bagian seksual ditonjolkan: subjek menyatakan pemberontakan terhadap masyarakat (figur ortu) atau dengan sadar menyadari konflik seksual.
3)         Hal-hal lain dari pakaian:
4)         Dasi à sering dikaitkan dengan keterikatan/hambatan
5)         Kancing à kebutuhan akan perhatian/rasa aman
6)         Perhiasan à kurang percaya diri. Jika berupa anting-anting yang besar indikasi: menarik perhatian.
7)         Saku yang ditempatkan di dada indikasi infantil/dependen.
8)         Ikat pinggang à sering dikaitkan dengan kedisiplinan atau kekakuan/tekanan
d.         Tungkai / paha dan kaki
1)         Merupakan area yang banyak dikaitkan dengan kemandirian, arah, gerakan dan keseimbangan. 
2)         Pada pria kaki menggambarkan maskulinitas.
3)         Ex : Gambar kaki yang terlalu panjang menunjukkan keinginan yang kuat untuk mandiri.
4)         Jika digambar pertama (mendapat perhatian lebih) indikasi orang yang tidak berani mengekspresikan diri.
e.              Activity / Passivity
Gambar Pasif :
1)      Kurang energi sehingga terlihat tidak energetik 
2)      Dependent
3)      Kurang kompeten
4)      Merasa dirinya kecil
Gambar Pasif:
1)      Kurang energi sehingga terlihat tidak energetik 
2)      Dependent
3)      Kurang kompeten
4)      Merasa dirinya kecil
f.     Kelengkapan
Apakah ada bagian-bagian yang tidak digambar :
1)      Setiap bagian yang hilang/rusak dapat mengartikan “subjek memiliki permasalahan yang berhubungan dengan bagian yang rusak/hilang tersebut. 
2)      Biasanya menggambarkan konflik dalam diri.
2.      Tes DAT
a.       Tes Hitung (A5) 
1)       Terdiri dari 40 soal dengan lembar jawab yang terpisah
2)        Mengukur aspek: kemampuan berfikir dengan angka, penguasaan hubungan numerik. Misalnya berupa penjumlahan sederhana.
3)       Disebut: arithmetic compution bukan arithmatic rationing
Cara penyajian: 
1)       Secara berkelompok atau individual 
2)       Waktu: 30 menit. 5 – 10 menit untuk instruksi 
3)       Tujuan untuk prediksi dalam bidang pendidikan (misal: matematika, fisika, kimia, teknik) dan pekerjaan (misal: ass. Labor, statistika, administrasi) 
4)       Untuk jurusan sosial dan bahasa harus diberikan dengan tes verbal. Ters berhitung + tes verbal = general learning ability. Tes berhitung + abstract rationing + verbal rationing = IQ umum. 
5)       Skoring: Benar = 1, Salah = 0
b.      Tes Penalaran (A3) 
1)       Jumlah Soal 50 buah 
2)       Aspek yang diukur: Kemampuan penalaran non-verbal yaitu meliputi kemampuan individu untuk memahami hubungan logis dari figur-figur abstrak. 
3)       Abstract Rationing + Verbal Rationing + Numerical Ability = General IQ
Cara penyajian: 
1)       Dilakukan secara individual atau kelompok 
2)       Waktu: 25 menit, untuk instruksi 5 – 10 menit 
3)       Tujuan: melakukan seleksi/evaluasi dibidang pendidikan ataupun pekerjaan 
4)       Skoring: Benar = 1. Salah = 0
c.       Tes Pola (B3) 
1)       Terdiri dari 40 soal 
2)       Aspek yang diukur: kemampuan mengenal hal; konkrit (tiga dimensi) melalui proses penglihatan. 
3)       Testee perlu melakukian imajinasi (memanipulasi secara mental)
Cara Penyajian: 
1)       Bisa individual atau kelompok 
2)       Waktu: 30 menit, instruksi 5 – 10 menit.
3)        Tujuan: mengetahui kemampuan seseorang mengenal bentuk 3 dimensi. 
4)       Misal untuk bidang desain, arsitektur, seni, dekorasidll.Sekoring: 
5)       Benar – Salah
Bentuk lain dari tes Pola (C5) 
1)       Tes ruang Bidang (C5) 
2)       Jumlah soal 60 buah 
3)       Secara umum tes ruang bidang mengukur aspek yang sama dengan tes pola
d.      Tes Pengertian Mekanik (C4) 
1)       Jumlah soal 68 buah
2)       Merupakan bentuk baru dari tes mechanical comprehensive yang dibuat oleh Binnett. 
3)       Waktu yang dibutuhkan 30 menit. 
4)       Tujuan: Mengukur kemampuan khusus dalam bidang mekanik untuk memilih pekerjaan atau pendidikan. Contoh: Perakit mesin, maintenance mesin.
5)       Skoring: B = 1, S = 0, Skor tertinggi 68.
6)       Rumus pemberian skor kasar: R – ½ w yaitu jumlah benar dikurangi seperdua jumlah salah
e.       Tes Cepat dan Teliti (D4) 
1)       Jumlah soal 100 buah dibagi menjadi 2 bagian
2)        Aspek yang diukur: respon subjek terhadap tugas/pekerjaan yang berkaitan dengan kecepatan persepsi dari suatu stimulus yang sifatnya sederhana.
3)       Kecepatan respon terhadap kombinasi hurup dan angka.
4)       Ingatan yang sifatnya jangka pendek (Momentary retention)
Cara Penyajian: 
1)       Waktu: 3 menit untuk masing-masing bagian 
2)       Tujuan: untuk konseling sekolah
3)       Misal: ada siswa dengan skor tes cepat dan teliti yang rendah, kemungkinan ia ada kesulitan dalam kecepatan dan presisi. 
4)       Untuk seleksi karyawan yaitu untuk meramalkan produktivitas seseorang dalam mengerjakan tugas rutin yang melibatkan persepsi dan pemberian tanda. Misal: filing, coding, stock room work. 
5)       Skoring: bagian 1 tidak diskor (untuk latihan saja). 
6)       Bagian II diskor: skor total adalah jumlah soal yang dikerjakan dengan benar.
Hasil penelitian 
1)       Skor tinggi pada tes cepat teliti dibutuhkan untuk pekerjaan seperti business administration, tapi tidak perlu skor untuk salesmen. 
2)       Ada korelasi yang signifikan antara skor tes dengan prestasi kerja karyawan dibagian rajut dan finishing perusahaan pembuat rambut palsu.
f.       Tes Pemakaian Bahasa (Language Usage-Spelling + Grammar) 
1)       Mengukur kemampuan membedakan tata bahasa yang baik dan benar, tanda baca, dan penggunaan kata.
2)       Spelling: mengukur seberapa baik seseorang mengeja kata dalam bahasa Inggris / Indonesia.
3)       Grammar: mengukur kemampuan siswa / seberapa baik seseorang dapat mengenal kesalahan –kesalahan tata bahasa, tanda baca, dan pemakaian kata dalam kalimat yang mudah.
3.      Tes HTP
HTP digunakan oleh para ahli jiwa untuk mendapatkan data yang cukup signifikan yang mempunyai sifat diagnosa atau prognosa mengenai keseluruhan pribadi individu yang bersangkuta, juga dapat mengetahui bagaimana interaksi pribadi dengan lingkungan baik yang umum ataupun spesifik.
Menurut John Duck, HTP digunakan untuk mendapatkan data tentang kemajuan individu yang dikenai suatu treatment. Baik HTP ataupun tes grafis lainnya dapat disertai dengan warna dan interpretasinya mencakup juga sesuai atau tidak sesuainya penggunaan warna terhadap objek. Yang paling penting di interpretasi adalah orientasi individu (terhadap ruang dan daya abstraksi)
Instruksi yang digunakan dalam Tes Psikologi HTP
Gambarlah Rumah, Pohon dan Orang pada kertas yang tersedia
Ada dua cara:
a.       Diminta untuk kmenggambar dalam satu kerta.
b.      Masing-masing di gambar dalam kertas tersendiri
Tips untuk test ini perhatikan tulisan di bawah ini.Dalam tes HTP,assessment (penilaian) karakter seseorang berdasarkan gambar tersebut antara lain sebagai berikut ini:
Garis dan dinding mewakili ego seseorang. Garis dan dinding yang terlalu samar menunjukkan ego yang lemah. Sedangkan bila terlalu tebal menunjukkan kecemasan yang berlebihan.
Atap mewakili fantasi. Jika peserta tes terlalu memperhatikan atap, maka artinya dia terlalu memperhatikan fantasi dalam kehidupannya. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai tes HTP ini silakan anda pelajari dalam.

4.      Tes Warteg
Tes Wartegg mengharuskan peserta untuk melengkapi gambar yang terdiri dari 8 gambar, 4 diantaranya berupa garis lurus (Gambar III, IV, V, dan VI) dan empat lainnya berupa garis lengkung (Gambar I, II, VII, VIII). Yang perlu anda ingat adalah untuk garis lengkung sebaiknya anda menggambar benda hidup dan untuk garis lurus yang kaku sebaiknya anda menggambar benda mati. Jika anda menggambar terbalik, misal garis lurus digambar dengan bunga, hewan dan sebagainya atau garis lengkung digambar dengan mobil, mesin dan sebagainya, hal ini menandakan “ada yang salah” dengan jiwa atau kepribadian anda.
Selanjutnya dari cara menggambar pun bisa kelihatan kepribadian seseorang misal : jika saat mengambar anda terlalu sering menghapus atau kotor menandakan bahwa anda adalah orang yang peragu atau tidak terencana dan jika anda menggambar terlalu kuat untuk garis yang seharusnya lembut berarti anda termasuk orang yang keras kepala.
Apa yang anda gambarpun juga menunjukan kepribadian atau kemampuan IQ anda. Jika anda menggambar sesuatu yang “biasa saja dan umum” tentu penilaian tingkat kecerdasannya akan berbeda dibanding jika anda menggambar “sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain dan berwawasan”
Namun demikian, tes psiko hanyalah merupakan suatu alat buatan manusia untuk mengetahui kepribadian seseorang secara umum saja. Kesimpulan yang dihasilkannya boleh jadi berbeda dengan kepribadian yang sesungguhnya. Hal ini diakui oleh para psikolog sendiri bahwa tidak ada satu pun tes di jagad raya ini yang benar-benar akurat dapat menilai kemampuan dan kepribadian seseorang.

5.      Tes TAT
Penilaian TAT grid (Serie “A” y “B” Seri "A" dan "B"). Pertama dua kategori kelompok prosedur dari seri "A" dan "B", diteruskan ke prosedur pengolahan pidato q ue berada dalam korespondensi dengan mekanisme pertahanan neurotik, khususnya represi - yang menyaksikan sebuah intrapsikis conflictualización , yaitu sebuah perjuangan antara sistem dari aparat dalam hal psikis dari 1 Topical Preconsciente-consciente/inconsciente Freudian, atau dalam hal ke-2 Topical, sebagai perjuangan antara id dan superego melalui saya, saya yang menunjukkan adanya ruang internal yang berbeda l dilantik pada dunia luar, ruang internal yang akan tahap penyebaran dan dramatisasi konflik.
Prosedur-prosedur ini diwakili, dan n kedua kasus, organisasi-organisasi mental yang rumit, yang didominasi oleh konflik:
a.       Di Serie A adalah diambil alih oleh pikiran bahwa beruang ekspresi keinginan dan pertahanan.
b.       Dalam Seri "B" untuk pementasan yang menunjukkan hubungan antara contoh mengatasi.
c.        Seri "C"

6.      TES RorSschach
a.       Kesiapan tester dan testee
1)      Siap dan bersedia melakukan tes
2)      Sehat secara fisik dan psikis
b.      Suasana lingkungan
1)      Bervariasi, testee dibuat merasa santai
2)      Testee membangun rapport (hubungan yang baik)
3)      Fisik: ruangan, lingkungan, penerangan, sirkulasi udara, dll.
c.       Pengaturan tempat duduk
1)      Berdampingan sulit dilakukan di Indonesia
2)      Berhadap-hadapan terkesan intograsi
3)      Membentuk sudut siku
d.      Persiapan alat-alat Rorschah
1)       Kartu Rorschah : 10 kartu, kartu I paling atas, posisi dibalik (paling bawah kartu X), kartu bisa diletakkan disamping/dipangku
2)       Lembar jawaban ada 2 :
-          mencatat respon pada waktu performance proper
-          lembar lokasi : pada tahap inquiry, tujuannya untuk menentukan lokasi subjek saat menjawab ada 5 lembar
3)       Stop watch
4)       Alat tulis


Instruksi Tes Rorschach
Tergantung kondisi testee fleksibel misalnya sosial budaya, pendidikan, kondisi-kondisinya, tidak ada aturan baku. Instruksi mengandung unsur-unsur :
1.      Cara membuat bercak tinta. Misal :apakah anda pernah bermain dengan bercak tinta?jika belum pernah,
2.      maka dijelaskan. Cara : teteskan tinta di kertas, kemudian dilipat.
3.      Akan ditunjukkan 10 kartu bercak tinta. Misal : nanti dalam tes, saa akan memberikan 10 kartu
4.      Tugas testee,mengatakan “apa yang dilihat”
5.      Motivasi dalam menjawab. Misal : tidak ada yang benar-salah, baik-buruk
6.      Beritahu : jawaban akan dicatat dan waktunya dihitung, apabila testee bertanya maka dijawab “tes imajinasi”.









BAB III
PENUTUP

A.     SIMPULAN
Tes menggambar pada anak merupakan salah satu tes yang ditujukan untuk mengetahui kemampuan anak, memalui intelegensi anak maupun kekreatifitasan anak. Tes menggambar yang terus berkembang dengan semakin berkembangnya masa, tes menggambar juga mengalami perkrmbangan dan terus diteliti oleh para ilmuan.
Dalam mengadakan tes menggambar anak akan mampu mengetahui seberapa tingkat kemampuan dalam menghadapi soal-soal yang telah diberikan.
B.     SARAN
Sebagai tenaga kesehatan sangatlah penting untuk menetahui cara melaksanakan tes menggambar karena akan membantu klien mengetahui perkembangan anak dalam tiap pertumbuhannya. Sehingga klien akan dapat dengan mudah menilai perkembangan anak secara mandiri.








DAFTAR PUSTAKA


1 komentar:

  1. Sip lanjutkan de Resthy ngeblogxa :)...
    jangan lupa visit&join to my blog "wormmoriss.blogspot.com I'm waiting for your visit :)

    BalasHapus