A. LATAR BELAKANG
Dalam sebuah
penelitian di Fakultas Psikologi UI, didapatkan bahwa tingkat validitas tes
grafis yang dimaksud diatas sangat rendah. Ini membuktikan bahwa keakuratan tes
grafis dipertanyakan. Tetapi kita masih banyak menemukan
pemakaian alat tes ini secara luas di masyarakat (khususnya di Indonesia) oleh
psikolog-psikolog kita di Indonesia. Ini adalah sebuah pertanyaan besar,
menggunakan sebuah alat tes yang tidak valid (tidak akurat) dalam menentukan
hidup seseorang.
Ada dua alasan
yang membuat alat tes grafis tidak akurat dalam penggunaannya, yaitu
:
1.
Culture Bias
Budaya
menentukan normal tidaknya seseorang, sehingga normal atau tidaknya seseorang
itu adalah sebuah sikap subjektif budaya, artinya interpretasi terhadap
kenormalan berbeda-beda untuk setiap budaya, bahkan bisa saja, normal di salah
satu budaya, tetapi pandangan terhadap budaya lain itu adalah sebuah tingkah
laku yang abnormal.
Tes grafis dibuat di Barat, tentunya dengan
menggunakan standar kenormalan nilai-nilai yang di anut di Barat. Kita berikan
salah satu contoh, misalnya pemakaian penutup kepala (misalnya jilbab) di
timur, dalam interpretasi alat tes grafis, ini adalah sebuah penyimpangan
tingkahlaku yang diungkap dalam tes grafis. Menutupi kepala adalah menutupi
kekurangan, tidak terbuka, atau ada sesuatu hal yang membuat orang tersebut
tidak menampilkan apa adanya. Ini adalah salah satu interpretasi dalam menutupi
kepala pakai (jlbab). Bandingkan dengan budaya timur (Agama Islam), memakai
jlbab adalah sebuah hal yang ideal, normal, bahkan nilai dalam Agama Islam
mengharuskan memakaianya, artinya yang tidak memakai adalah sebuah keabnormalan
dalam budaya Islam. Ini adalah salah satu contoh dari interpresi Tes Grafis
yang bias budaya.
2.
Habitual Personal Bias
Kebiasaan setiap orang akan berbeda. Dari jenis
kebiasaan yang berbeda diberikan sebuah stimulus yang sama, tentunya akan
memberikan respon yang berbeda pula, tergantung dari referensi yang dimiliki
oleh individu yang bersangkutan.
Seseorang yang sudah terbiasa menggambar,
apalagi seorang pelukis akan berbeda dengan orang yang memang sejak lahir
jarang atau tidak pernah melakukan kegiatan ini. Memang, dalam tes Grafis yang
di nilai bukan bagus tidaknya gambar, yang dihasilkan, tapi bagaimana seseorang
menarik garis dalam membentuk gambar, tetap saja unsur kebiasaan sangat
berpengaruh.
Sikap dan kebiasaan masyarakat di timur dalam
mengungkapkan perasaan sangat berbeda di barat. Masayarakat di timur,
kepribadian adalah sebuah aib yang harus dijaga, ditutupi. Berbeda dengan
budaya di barat, kepribadian cenderung terbuka, asertif, katakan suka kalau
suka, dan katakan benci jika benci.
Dengan menggunakan interpretasi yang sama,
dalam menggungkap kepribadian yang berbeda dan latar belakang budaya yang
berbeda, tentunya akan menghasikan interpretasi yang bias. Memang sudah ada
usaha dalam adaptasi alat tes untuk menjaga bias-bias diatas, tetapi pada alat
Tes Grafis saya belum pernah mendengarnya.
Alangkah bijaknya jika alat tes grafis diadakan
uji validitas ulang untuk mengetahui tingkat keterpercayaannya. Apalagi alat
tes ini masih banyak di gunakan di sekitar kita, tentunya akan merugikan pihak
pengguna alat tes ini. Tetapi disinyalir bahwa, tes Grafis mempunyai tingkat
akurasi rendah, berdasarkan logika-logika yang ada.
B. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu melaksanakan tes menggambar pada anak dalam
tes intelegensi anak
2.
Mahasiswa mengetahui
mengenai kemampuan anak dalam menyampaikan kekreatifitasan anak melaliu
menggambar pada tes yang tersedia
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Draw Person
Test (Tes
menggambar orang), Draw Tree Test (Tes menggambar pohon), atau HTP (Human
Tree Person/ gambar rumah, pohon dan orang) adalah salah satu contoh dari
tes grafis yang sangat luas digunakan di Indonesia dalam mengungkap sisi-sisi
kepribadian.
Tes ini berawal
dari teori yang mengatakan bahwa kepribadian manusia diprojeksikan dalam bentuk
tingkah laku. Teori
Psikoanalisa mengatakan bahwa projeksi kepribadian bisa diungkap dengan
memanipulasi instruksi yang tidak diketahui oleh subjek (testee), salah satu bentuknya
adalah tes gambar.Memang sebuah kesulitan mengungkap kepribadian manusia yang
abstrak, apalagi sisi kepribadian manusia unik dan personal. Sehingga berawal
dari teori diatas, para ahli psikologi menciptakan alat tes yang bisa membaca
sisi kepribadian manusia. Pada dasarnya, alat tes psikologi digunakan untuk
mempermudah membaca kepribadian manusia, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah,
sisi keakuratan alat tes itu sendiri.
Dapat di
prediksi bahwa dampak dari ketidakakuratan sebuah alat tes sangat besar.
Apalagi sebuah alat tes psikologi dipergunakan untuk menentukan hidup
seseorang. Ini akan menyangkut privasi, nama baik, normal atau tidaknya
seseorang tergantung dari alat tes psikologi tersebut.
B. SEJARAH PERKEMBANGAN TES MENGGAMBAR
1.
Tes DAP
Pada tahun 1948, Buck mengembangkan
House-Tree-Person (HTP) Test, gambar rumah dan pohon yang memiliki
kedekatan dengan kehidupan seseorang yang juga termasuk tes proyeksi.
Tahun 1949, Machover mengembangkan
Draw-A-Person (DAP) Test, sebagai teknik untuk mengukur kepribadian.
Machover mengembangkan sejumlah hipotesis berdasarkan obeservasi klinis dan
penilaian intuitif. Misal, ukuran gambar berkaitan dengan tingkat self-esteem,
penempatan gambar dalam kertas merefleksikan suasana hati dan orientasi sosial
seseorang.
Selanjutnya tahun 1951, Hulse
mengembangkan Draw-A-Family (DAF) Test, DAP secara luas kemudian
dikembangkan oleh Hammer (1958), Headler (1985), Urban (1963), Koppitz (1968,
1984).
Tahun 1963, Harris membuat revisi DAM Test
dengan menambahkan dua form baru (anak bukan hanya diminta untuk menggambar
seorang laki-laki, tetapi juga seorang wanita, dan gambar dirinya sendiri,
sistem skoring yang lebih detail, dan standarisasi yang lebih luas.
Seorang tokoh tes psikologi, Levy
mengemukakan beberapa kemungkinan dalam penggunaan Tes DAM (Draw A Man) atau
tes DAP (Draw A Person), diantaranya sebagai berikut:
a.
Gambar orang tersebut merupakan proyeksi dari self
concept
b.
Proyeksi dari sikap individu terhadap
lingkungan
c.
Proyeks dari ideal self image-nya
d.
DAM sebagai suatu hasil pengamatan individu
terhadap lingkungan
e.
Sebagai ekspresi dari pola-pola kebiasaan (habit
pattern)
f.
Ekspresi dari keadaan emosinya (emotional
tone)
g.
Sebagai sikap subjek terhadap tester dan
situasi tes tersebut
h.
Sebagai ekspresi dari sikap individu terhadap
kehidupan/masyarakat pada umumnya
i.
Ekspresi sadar dan ketidaksadarannya.
2.
Tes DAT
DAT disusun
oleh George George K. Bennet & Harold G. Wesman. Pada awalnya dibuat untuk
mendapatkan prosedur ilmiah dalam menilai murid-murid baik sekolah laki-laki
dan perempuan, secara terintegrasi dan terstandar. Tetapi juga secara luas
dipakai dalam dunia perusahaan.
DAT termasuk
tes bakat. Pada umumnya, tes bakat dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.
Test
Special Aptitude: terfokus pada satu bakat saja. Misal mengukur bakat dibidang
teknik mekanik, bakat pekerjaan tertentu (klerikal) dsb.
2.
Bateries test: Terdiri dari sejumlah tes,
dapat diperoleh analisis profil untuk seseorang individu (intra individu).
Tes DAT masuk
sebagai test special aptitude, yang mana dikhususkan untuk mengukur bakat
secara spesifik. Contoh tes lain yang mengukur tes bakat secara spesifik
seperti IST (Intelligence Structural Test), FACT (Flanagan
Aptitude Classification Test), GATB (General
Aptitude Test Battery) dan lain-lain.
Tes IQ
dipandang sudah tidak memadai lagi dalam memprediksi/ketepatan kemampuan
seseorang. Hal tersebut dilatarbelakangi dengan makin sadarnya para ahli
psikologi bahwa kemampuan mental tidak hanya terdiri dari satu faktor saja, tapi
banyak faktor. Jadi dibutuhkan tes yang mengukur bermacam-macam faktor ini, dan
tidak menghasilkan skor tunggal saja, tapi juga beberapa skor sesuai dengan
kemampuan yang diukur.
Tes DAT terdiri atas 7 tes, yaitu:
1.
Verbal
reasoning test
2.
Numerical
ability test
3.
Abstract
rationing test
4.
Space
relation test
5.
Mechanical
rationing test
6.
Clerical
speed and Accuracy test
7.
Language
usage-part 1: spelling, part 2: sentences.
3. Tes HTP
Psikotes House Tree Person (HTP) adalah tes
psikologi yang pertama kali dikembangkan oleh John Buck pada tahun 1948. Buck
meyakini bahwa goresan gambar seseorang (dalam hal ini gambar rumah, pohon dan
orang) dapat mewakili karakter pribadinya.
Pada tes ini, peserta tes diminta untuk
menggambar sebuah rumah, sebuah pohon dan seorang manusia. Yang kemudian hasil
masing-masing gambar tersebut dievaluasi dari berbagai aspek untuk menilai
karakter kepribadian peserta tes
Berikut beberapa
alasan digunakannya tes HTP
Sama seperyi tes DAP dan BAUM, yaitu:
Sama seperyi tes DAP dan BAUM, yaitu:
1. Karena ketiga
objek tersebut paling dikenal oleh orang
2. Hampir semua
orang tak menentang diminta menggambar House Tree Person
3. Dibandingkan dengan objek lain, objek yang
lebih dapat menstimulir verbalisasi yang sifatya jujur dan bebas.
4.
Tes Warteg
Tes Warteg (Warteg Test) adalah tes yang diberikan
stimulasi gambar yang sudah ada dalam kotak yang berjumlah delapan kotak,
peserta tes diharapkan meneruskan gambar stimulus tersebut. Dalam psikotest itu dinamakan Wartegg Test.
Ada 8 kotak berisi
lambang ( bentuk yang harus diselesaikan
). Test ini untuk mengukur emosi, imajinasi, intelektual dan aktifitas
subjek. Dalam test ini, kita diminta untuk melengkapi gambar yang ada di
kotak-kotak tersebut ( 4 garis lurus & 4 garis lengkung ). Setelah itu,
kita diminta untuk mengurutkan gambar
dalam kotak nomor berapa yang terlebih dahulu dibuat dan memberi nama gambar.
Kemudian kita diminta menuliskan gambar mana yang paling mudah, paling sulit,
paling disukai dan tidak disukai.
Dari cara menggambar ini bisa dilihat kepribadian seseorang. Apa
yang kita gambarpun ‘konon’ juga menunjukkan kepribadian dan kemampuan IQ kita.
Namun, psikotest tersebut hanyalah buatan manusia untuk mengetahui
kepribadian secara umum.
5.
Tes TAT
TAT diciptakan
oleh seorang psikolog dari Harvard bernama Morgan dan Murray dan TAT yang lazim
dilakukan kepada orang-orang terdiri dari setumpuk kartu bergambar, yang
mengandung ekspresi-ekspresi yang kuat. Kartu TAT ini juga di kategorikan
berdasarkan gender, B untuk boys, G untuk girls dan M-F untuk male and
female, yakni untuk kedua jenis.
Bentuk
modifikasi dari TAT adalah CAT (Childrena’s Apperception Test), yang
menyediakan gambar yang terfokus pada konflik, hubungan orang tua, permusuhan
dengan saudara kandung, dan situasi lain yang sering ditemui pada anak-anak.
Tes lain yang
mirip dengan TAT dan CAT adalah Michigan Picture Story Test (MPST), terdiri
dari material yang menggambarkan anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua,
polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bermanfaat
dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan
teman-teman sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.
Selain itu ada
juga tes Make-A-Picture Story (MAPS), yang memiliki kesamaan dengan MPST dalam
hal tujuan dan potensi interpretasi yang dimiliki. Perbedaan MAPS dengan tes
lain yaitu, pada MAPS klien diperbolehkan memilih karakter yang akan diletakkan
pada latar belakang panggung yang kecil, untuk kemudian klien membuat cerita
berdasarkan situasi tersebut.
TAT ini
didasarkan pada teori needs Murray yang memandang bahwa dalam suatu perilaku
manusia pasti didorong oleh adanya motivasi internal dan eksternal, sedangkan
lingkungan dipandang sebagai press (tekanan) yang mempengaruhi dorongan
tersebut. Keduanya akan membentuk suatu interaksi antara kebutuhan dan
lingkungan yang disebut sebagai tema. Kesatuan tema merupakan kesatuan
interaksi itu yang terbentuk sejak jaman kanak-kanak tanpa disadari, dan ini
merupakan kunci dari suatu perilaku unik (khas) seseorang.
Dalam tes-tes
kepribadian dengan pendekatan proyektif, klien berespon terhadap stimulus yang
tidak terstruktur dan ambigu sehingga tanpa sadar klien mengungkap struktur
dasar dan dinamika kepribadiannya. Beberapa teknik proyektif yang terkenal dan
digunakan secara luas antara lain tes Rorschach, Thematic Apperception Test
(TAT), ChildrenÂ’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes
Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Picture Story Test, dan Sentence Completion
Test.
6.
Tes rorscharch
Hasil
penelitian psychodiagnostik (1921) dengan Eksperimen ,menyeleksi
satu sesi bercak tinta (10 kartu ) dari beribu-ribu kartu. Cara
pembuatan kartu : meneteskan tinta pada selembar kertas putih kemudian
dilipat di tengah dan ditekan. Pola yang diujicobakan, harus memenuhi
syarat
1.
Bentuk
gambar tersebut relatif simpel, gambar yang terlalu kompleks akan sulit
dianalisis dalam eksperimennya
2.
Distribusi
bercak harus memenuhi percyaratan komposisi tertentu.
3.
bercak
tidak terlalu sugestif
4.
Komposisi
bercak yang digunakan untuk penelitian sebagian besar adalah sistematis
meskipun sedikit perbedaan kecil antara sebelah kiri dan kanan. Setelah
menyelidiki beribu-ribu kartu, akhirnya diperoleh 10 kartu yang digunakan
sampai sekarang.
Penelitian
intensif tentang jawaban dari respon subjek, Eksperimennya tersebut
”interpretation of accidental forms”, yaitu bentuk-bentuk tidak spesifik karena
orang dapat melihat dan menginterpretasikan bercak tinta sebagai bentuk yang
ber-aneka macam tergantung dari cara mempersepsikan.
Subjek
eskperimen psikopatik, kasus-kasus alkoholik, retardasi mental skizophrenia,
manic-depressif, epilepsi, paretic, demensia senilis, demensia
arteriosklerosis, dan korsakoff, orang-orang normal yang berpendidikan dan
tidak berpendidikan. Dan membuat tiga seri bercak tinta yang pararel
dengan seri yang telah standar. Dari hasil eksperimen, Roschah melakukan
analisis fungsi terhadap persepsi subjek. Isi jawaban subjek dipertimbangkan
paling akhir.
Pertanyaan
Roschah sebagai dasar analisis adalah (Roschah, 1981) :
1. Berapa jumlah respon yang diberikan? Berapa lama waktu
reaksinya?seberapa sering penolakan untuk memberikan jawaban untuk beberapa
kartu?
2. Apakah jawaban ditentukan hanya oleh bentuk bercak saja atau ada
persepsi terhadap gerakan dan warna
3. Apakah bercak itu diinterpretasi secara keseluruhan atau sebagian ?
Bagian mana yang diinterpretasi?
4. Apa yang dilihat oleh subjek (isi jawaban ) Roschah belum
menggunakan shading, : gelap-terangnya bercak sebagai salah satu aspek bercak yang
perlu dianalisis.
Klopfer (1962) teknik Rorschah merupakan puncak keberhasilan
dari penelitian sebelumnya. Hal yang membedakan dengan penelitian
sebelumnya. Ahli sebelumnya hanya menganalisa bercak tinta dari segi isi
dan respon serta imajinasi sedangkan Roschah berdasarkan fungsi persepsi karena
imajinasi hanya berperan sedikit. Persepsi adalah proses asosiasi yang
integratif antara gambaran-gambaran ingatan dengan penginderaan sehingga
terjadi tiga proses: sensasi, memori, asosiasi. Yang dipentingkan Roschah
bukan aspek dari isi jawabanm tetapi juga aspek formal dan strukturil yaitu
menekankan untuk memahami bagaimana seseorang memandang bercak tinta, bukan apa
isi dari responnya. Kemudian Rorchah mengolah
respon subjek dalam kategori-kategori analisa yang dikenal dengan
kategori-kategori skoring.
Periode
sesudah Roschach
1.
Emil
Obelholzer (1924)(Asisten Rorschach yang menerjemahkan tulisan Rorschah dalam bahasa
Inggris)
2.
David Levy(
Memperkenalkan di Amerika, dilatih oleh Obelholzer)
3.
Samuel Beck (Dipengaruhi
Levy, menerbitkan Tes Rorschah dan mengembangkan metode interpretasi)
4.
Hertz ( Penelitian :
aspek metodologis)
5.
Bruno Klopfer
Tahun 1934,
mengembangkan ide tes Rorschah, teknik scoring. Tahun 1936 mendirikan Rorschah
Institute yang melatih para ahli menggunakan tes Rorschah. Tahun 1948
Rorschah Institute berubah menjadi Projective Technique yang menerbitkan
Journal of Projective Technique, TAT dan tes proyeksi lainnya. Selain itu
banyak banyak alat tes yang menggunakan bercak tinta untuk melengkapi kelemahan
tes Rorschah :
1.
Bero,
yang dirancang sebagai tes Rorschah untuk anak-anak
2.
Zullinger
Test (Z-test) yang dirancang hanya dengan menggunakan 3 kartu
bercak tinta yang lebih kompleks
3.
Group
Rorschah, yaitu pelaksanaan administrasi tes Rorschah secara klasikal. Pertama
kali dirintis oleh Harrower dan Steiner dengan memproyeksikan bercak tinta
lewat slide, juga dikembangkan dengan multiple choice.
4.
Holtzman
Ink Blot technique yang dirancang untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan
metodologis tes Rorschah.
5.
Piotrowskis
Automated Rorschah (PAR) yang dirancang Piotrowski tahun 1974 menggunakan
komputer untuk skoring dan interpretasinya.
C. PENILAIAN TES
1. Tes DAP
a.
Kepala
1) Tempat
penghayatan mengenai diri atau ego.
2)
Menemukan gambaran tentang bgm seseorang
menggambarkan interaksinya dengan orang lain/lingkungan menurut konsepnya.
3) Bagian-bagian
dari kepala: (Mata, Telinga, Mulut, Hidung, Dagu dan Rambut)
b.
Lengan, tangan, bahu dan dada
1)
Ukuran, bentuk, kekuatan, kemampuan meraih,
derajat agresi dan tanda-tanda konflik lainnya.
2)
Kesan-kesan yang muncul saat subjek mengamati
area ini:
3)
Apakah subjek menarik diri dari lingkungan
4)
Berusaha meraih lingkungan
5)
Merasa aman atau terancam atau lemah
c.
Torso (badan) / trunk of the body
1)
Area ini mewakili betul bagaimana seseorang
ingin tampil dan hal-hal apa saja yang ia tekankan dalam upayanya menampilkan
diri di lingkungan.
2)
Jika gambar figur telanjang dan bagian-bagian
seksual ditonjolkan: subjek menyatakan pemberontakan terhadap masyarakat (figur
ortu) atau dengan sadar menyadari konflik seksual.
3)
Hal-hal lain dari pakaian:
4)
Dasi à sering dikaitkan dengan
keterikatan/hambatan
5)
Kancing à kebutuhan akan perhatian/rasa aman
6)
Perhiasan à kurang percaya diri. Jika berupa
anting-anting yang besar indikasi: menarik perhatian.
7)
Saku yang ditempatkan di dada indikasi
infantil/dependen.
8)
Ikat pinggang à sering dikaitkan dengan
kedisiplinan atau kekakuan/tekanan
d.
Tungkai / paha dan kaki
1)
Merupakan area yang banyak dikaitkan dengan
kemandirian, arah, gerakan dan keseimbangan.
2)
Pada pria kaki menggambarkan maskulinitas.
3)
Ex : Gambar kaki yang terlalu panjang
menunjukkan keinginan yang kuat untuk mandiri.
4)
Jika digambar pertama (mendapat perhatian
lebih) indikasi orang yang tidak berani mengekspresikan diri.
e.
Activity / Passivity
Gambar Pasif :
Gambar Pasif :
1)
Kurang energi sehingga terlihat tidak
energetik
2)
Dependent
3)
Kurang kompeten
4)
Merasa dirinya kecil
Gambar Pasif:
1)
Kurang energi sehingga terlihat tidak
energetik
2)
Dependent
3)
Kurang kompeten
4)
Merasa dirinya kecil
f.
Kelengkapan
Apakah ada bagian-bagian yang tidak digambar :
1)
Setiap bagian yang hilang/rusak dapat
mengartikan “subjek memiliki permasalahan yang berhubungan dengan bagian yang
rusak/hilang tersebut.
2)
Biasanya menggambarkan konflik dalam diri.
2. Tes DAT
a. Tes Hitung (A5)
1) Terdiri dari 40 soal dengan lembar jawab yang terpisah
2) Mengukur aspek: kemampuan berfikir dengan angka, penguasaan
hubungan numerik. Misalnya berupa penjumlahan sederhana.
3) Disebut: arithmetic compution bukan arithmatic rationing
Cara penyajian:
1) Secara berkelompok atau individual
2) Waktu: 30 menit. 5 – 10 menit untuk instruksi
3) Tujuan untuk prediksi dalam bidang pendidikan (misal: matematika,
fisika, kimia, teknik) dan pekerjaan (misal: ass. Labor, statistika,
administrasi)
4) Untuk jurusan sosial dan bahasa harus diberikan dengan tes verbal.
Ters berhitung + tes verbal = general learning ability. Tes berhitung + abstract
rationing + verbal rationing = IQ umum.
5) Skoring: Benar = 1, Salah = 0
b.
Tes
Penalaran (A3)
1) Jumlah Soal 50 buah
2) Aspek yang diukur: Kemampuan penalaran non-verbal yaitu meliputi
kemampuan individu untuk memahami hubungan logis dari figur-figur abstrak.
3) Abstract Rationing + Verbal
Rationing + Numerical Ability = General IQ
Cara penyajian:
1) Dilakukan secara individual atau kelompok
2) Waktu: 25 menit, untuk instruksi 5 – 10 menit
3) Tujuan: melakukan seleksi/evaluasi dibidang pendidikan ataupun
pekerjaan
4) Skoring: Benar = 1. Salah = 0
c.
Tes
Pola (B3)
1) Terdiri dari 40 soal
2) Aspek yang diukur: kemampuan mengenal hal; konkrit (tiga dimensi)
melalui proses penglihatan.
3) Testee perlu melakukian imajinasi (memanipulasi secara mental)
Cara Penyajian:
1) Bisa individual atau kelompok
2) Waktu: 30 menit, instruksi 5 – 10 menit.
3) Tujuan: mengetahui kemampuan seseorang mengenal bentuk 3
dimensi.
4) Misal untuk bidang desain, arsitektur, seni,
dekorasidll.Sekoring:
5) Benar – Salah
Bentuk lain dari tes Pola (C5)
1) Tes ruang Bidang (C5)
2) Jumlah soal 60 buah
3) Secara umum tes ruang bidang mengukur aspek yang sama dengan tes pola
d.
Tes Pengertian
Mekanik (C4)
1) Jumlah soal 68 buah
2) Merupakan bentuk baru dari tes mechanical comprehensive yang dibuat
oleh Binnett.
3) Waktu yang dibutuhkan 30 menit.
4) Tujuan: Mengukur kemampuan khusus dalam bidang mekanik untuk
memilih pekerjaan atau pendidikan. Contoh: Perakit mesin, maintenance mesin.
5) Skoring: B = 1, S = 0, Skor tertinggi 68.
6) Rumus pemberian skor kasar: R – ½ w yaitu jumlah benar dikurangi
seperdua jumlah salah
e.
Tes
Cepat dan Teliti (D4)
1) Jumlah soal 100 buah dibagi menjadi 2 bagian
2) Aspek yang diukur: respon subjek terhadap tugas/pekerjaan
yang berkaitan dengan kecepatan persepsi dari suatu stimulus yang sifatnya
sederhana.
3) Kecepatan respon terhadap kombinasi hurup dan angka.
4) Ingatan yang sifatnya jangka pendek (Momentary retention)
Cara Penyajian:
1) Waktu: 3 menit untuk masing-masing bagian
2) Tujuan: untuk konseling sekolah
3) Misal: ada siswa dengan skor tes cepat dan teliti yang rendah,
kemungkinan ia ada kesulitan dalam kecepatan dan presisi.
4) Untuk seleksi karyawan yaitu untuk meramalkan produktivitas
seseorang dalam mengerjakan tugas rutin yang melibatkan persepsi dan pemberian
tanda. Misal: filing, coding, stock room work.
5) Skoring: bagian 1 tidak diskor (untuk latihan saja).
6) Bagian II diskor: skor total adalah jumlah soal yang dikerjakan
dengan benar.
Hasil penelitian
1) Skor tinggi pada tes cepat teliti dibutuhkan untuk pekerjaan
seperti business administration, tapi tidak perlu skor untuk salesmen.
2) Ada korelasi yang signifikan antara skor tes dengan prestasi kerja
karyawan dibagian rajut dan finishing perusahaan pembuat rambut palsu.
f.
Tes
Pemakaian Bahasa (Language Usage-Spelling + Grammar)
1) Mengukur kemampuan membedakan tata bahasa yang baik dan benar,
tanda baca, dan penggunaan kata.
2) Spelling: mengukur seberapa baik seseorang mengeja kata dalam
bahasa Inggris / Indonesia.
3) Grammar: mengukur kemampuan siswa / seberapa baik seseorang dapat mengenal kesalahan –kesalahan tata
bahasa, tanda baca, dan pemakaian kata dalam kalimat yang mudah.
3.
Tes HTP
HTP digunakan oleh para ahli jiwa untuk
mendapatkan data yang cukup signifikan yang mempunyai sifat diagnosa atau
prognosa mengenai keseluruhan pribadi individu yang bersangkuta, juga dapat
mengetahui bagaimana interaksi pribadi dengan lingkungan baik yang umum ataupun
spesifik.
Menurut John Duck, HTP digunakan untuk
mendapatkan data tentang kemajuan individu yang dikenai suatu treatment. Baik
HTP ataupun tes grafis lainnya dapat disertai dengan warna dan interpretasinya
mencakup juga sesuai atau tidak sesuainya penggunaan warna terhadap objek. Yang
paling penting di interpretasi adalah orientasi individu (terhadap ruang dan
daya abstraksi)
Instruksi yang digunakan dalam Tes Psikologi
HTP
Gambarlah Rumah, Pohon dan Orang pada kertas yang tersedia
Ada dua cara:
Gambarlah Rumah, Pohon dan Orang pada kertas yang tersedia
Ada dua cara:
a. Diminta untuk
kmenggambar dalam satu kerta.
b. Masing-masing
di gambar dalam kertas tersendiri
Tips untuk test
ini perhatikan tulisan di bawah ini.Dalam tes HTP,assessment
(penilaian) karakter seseorang berdasarkan gambar tersebut antara lain sebagai
berikut ini:
Garis dan
dinding mewakili ego seseorang. Garis dan dinding yang terlalu samar
menunjukkan ego yang lemah. Sedangkan bila terlalu tebal menunjukkan kecemasan
yang berlebihan.
Atap mewakili fantasi. Jika peserta tes terlalu memperhatikan atap, maka artinya dia terlalu memperhatikan fantasi dalam kehidupannya. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai tes HTP ini silakan anda pelajari dalam.
Atap mewakili fantasi. Jika peserta tes terlalu memperhatikan atap, maka artinya dia terlalu memperhatikan fantasi dalam kehidupannya. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai tes HTP ini silakan anda pelajari dalam.
4. Tes Warteg
Tes
Wartegg mengharuskan peserta untuk melengkapi gambar yang terdiri dari 8
gambar, 4 diantaranya berupa garis lurus (Gambar III, IV, V, dan VI) dan empat
lainnya berupa garis lengkung (Gambar I, II, VII, VIII). Yang perlu anda
ingat adalah untuk garis lengkung sebaiknya anda menggambar benda hidup dan
untuk garis lurus yang kaku sebaiknya anda menggambar benda mati. Jika anda
menggambar terbalik, misal garis lurus digambar dengan bunga, hewan dan
sebagainya atau garis lengkung digambar dengan mobil, mesin dan sebagainya, hal
ini menandakan “ada yang salah” dengan jiwa atau kepribadian anda.
Selanjutnya
dari cara menggambar pun bisa kelihatan kepribadian seseorang misal : jika saat
mengambar anda terlalu sering menghapus atau kotor menandakan bahwa anda adalah
orang yang peragu atau tidak terencana dan jika anda menggambar terlalu kuat
untuk garis yang seharusnya lembut berarti anda termasuk orang yang keras
kepala.
Apa
yang anda gambarpun juga menunjukan kepribadian atau kemampuan IQ anda. Jika
anda menggambar sesuatu yang “biasa saja dan umum” tentu penilaian tingkat
kecerdasannya akan berbeda dibanding jika anda menggambar “sesuatu yang tidak
terpikirkan oleh orang lain dan berwawasan”
Namun
demikian, tes psiko hanyalah merupakan suatu alat buatan manusia untuk
mengetahui kepribadian seseorang secara umum saja. Kesimpulan yang
dihasilkannya boleh jadi berbeda dengan kepribadian yang sesungguhnya. Hal ini
diakui oleh para psikolog sendiri bahwa tidak ada satu pun tes di jagad raya
ini yang benar-benar akurat dapat menilai kemampuan dan kepribadian seseorang.
5. Tes TAT
Penilaian TAT grid (Serie “A” y “B” Seri "A" dan
"B"). Pertama dua kategori kelompok prosedur dari seri "A" dan
"B", diteruskan ke prosedur pengolahan pidato q ue berada dalam
korespondensi dengan mekanisme pertahanan neurotik,
khususnya represi - yang menyaksikan sebuah
intrapsikis conflictualización , yaitu sebuah
perjuangan antara sistem dari aparat dalam hal psikis dari 1 Topical
Preconsciente-consciente/inconsciente Freudian, atau dalam hal ke-2 Topical,
sebagai perjuangan antara id dan superego melalui saya, saya yang menunjukkan
adanya ruang internal yang berbeda l dilantik pada dunia luar, ruang internal
yang akan tahap penyebaran dan dramatisasi konflik.
Prosedur-prosedur ini diwakili, dan n kedua
kasus, organisasi-organisasi mental yang rumit, yang didominasi oleh konflik:
a. Di Serie A adalah diambil alih oleh pikiran bahwa beruang ekspresi
keinginan dan pertahanan.
b. Dalam Seri "B" untuk pementasan yang menunjukkan hubungan antara contoh
mengatasi.
c.
Seri "C"
6.
TES
RorSschach
a.
Kesiapan
tester dan testee
1)
Siap
dan bersedia melakukan tes
2)
Sehat
secara fisik dan psikis
b.
Suasana
lingkungan
1)
Bervariasi,
testee dibuat merasa santai
2)
Testee
membangun rapport (hubungan yang baik)
3)
Fisik:
ruangan, lingkungan, penerangan, sirkulasi udara, dll.
c.
Pengaturan
tempat duduk
1)
Berdampingan
sulit dilakukan di Indonesia
2)
Berhadap-hadapan
terkesan intograsi
3)
Membentuk
sudut siku
d.
Persiapan
alat-alat Rorschah
1)
Kartu
Rorschah : 10 kartu, kartu I paling atas, posisi dibalik (paling bawah
kartu X), kartu bisa diletakkan disamping/dipangku
2)
Lembar
jawaban ada 2 :
-
mencatat
respon pada waktu performance proper
-
lembar
lokasi : pada tahap inquiry, tujuannya untuk menentukan lokasi subjek saat
menjawab ada 5 lembar
3)
Stop
watch
4)
Alat
tulis
Instruksi Tes Rorschach
Tergantung kondisi testee fleksibel misalnya sosial budaya,
pendidikan, kondisi-kondisinya, tidak ada aturan baku. Instruksi mengandung
unsur-unsur :
1. Cara membuat bercak tinta. Misal :apakah anda pernah bermain
dengan bercak tinta?jika belum pernah,
2. maka dijelaskan. Cara : teteskan tinta di kertas, kemudian dilipat.
3. Akan ditunjukkan 10 kartu bercak tinta. Misal : nanti dalam
tes, saa akan memberikan 10 kartu
4. Tugas testee,mengatakan “apa yang dilihat”
5. Motivasi dalam menjawab. Misal : tidak ada yang benar-salah,
baik-buruk
6. Beritahu : jawaban akan dicatat dan waktunya dihitung, apabila
testee bertanya maka dijawab “tes imajinasi”.
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Tes menggambar pada anak merupakan salah
satu tes yang ditujukan untuk mengetahui kemampuan anak, memalui intelegensi
anak maupun kekreatifitasan anak. Tes menggambar yang terus berkembang dengan
semakin berkembangnya masa, tes menggambar juga mengalami perkrmbangan dan
terus diteliti oleh para ilmuan.
Dalam mengadakan tes menggambar anak akan
mampu mengetahui seberapa tingkat kemampuan dalam menghadapi soal-soal yang
telah diberikan.
B.
SARAN
Sebagai tenaga kesehatan sangatlah penting
untuk menetahui cara melaksanakan tes menggambar karena akan membantu klien mengetahui
perkembangan anak dalam tiap pertumbuhannya. Sehingga klien akan dapat dengan
mudah menilai perkembangan anak secara mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Sip lanjutkan de Resthy ngeblogxa :)...
BalasHapusjangan lupa visit&join to my blog "wormmoriss.blogspot.com I'm waiting for your visit :)